Rilis Survei Nasional Persepsi Publik Terkait Kinerja Pemerintah dan Peta Elektoral Terkini

Survei dilakukan pada tanggal 4 – 12 November 2022, melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 1220 responden, yang tersebar di 34 Provinsi.
Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ±
(2.83%) pada tingkat kepercayaan 95%.

Pada survei ini juga menyajikan tren dari data hasil survei-survei nasional yang pernah dilakukan Charta Politika Indonesia sebelumnya.

Klik tautan untuk mengunduh:

202211_Rilis_Surnas_Charta_

202211_Press Rilis_Survei_Charta

Jokowi Dukung Ganjar atau Prabowo, Begini Analisa Yunarto Wijaya

VIVA Politik – Gesture Presiden Joko Widodo atau Jokowi jadi perhatian di tengah dinamika politik menuju Pilpres 2024. Jokowi dikaitkan dengan dukungan politiknya terhadap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Pengamat politik Yunarto Wijaya menganalisa sampai saat ini belum bisa dipastikan sikap Jokowi meng-endorse antara Ganjar atau Prabowo. Menurut dia, jika merujuk di Amerika Serikat, maka seorang Presiden punya sikap untuk memastikan legacy-nya dalam dukungan politiknya.

“Yang tidak boleh adalah menggunakan kekuasaan ketika dia masih berkuasa,” kata Yunarto dalam Kabar Petang tvOne yang dikutip VIVA pada Selasa, 8 November 2022.

Menurut dia, dengan berbagai momen belakangan ini, Jokowi dikaitkan dengan tafsir dukungan ke Ganjar, Prabowo, Airlangga Hartarto, hingga Erick Thohir.

Dia bilang dalam hal ini bisa disimpulkan siapa yang membuat nyaman Jokowi. Dari momen ini yang sering dibahas adalah Ganjar.

Momen Rakernas Projo Pun, dia mengaitkan dengan rakernas relawan Pro Jokowi (Projo) di Magelang, Jawa Tengah pada Mei 2022. Saat itu, hadir Ganjar dan disinggung langsung oleh Jokowi ketika acara berlangsung.

“Kenapa? Karena ini untuk pertama kalinya Pak Jokowi bicara mengenai Pilpres 2024 di hadapan relawan Pilpres. Terkait sosok satu-satunya yang hadir di situ yang bisa ditafsirkan adalah Ganjar Pranowo,” jelas Yunarto.

Yunarto juga menyinggung gesture Jokowi yang belakangan ini kerap dikaitkan dengan Prabowo. Kata dia, dukungan Jokowi ke Prabowo ditafsirkan secara eksplisit.

Meski demikian, ia juga menyinggung saat Jokowi secara implisit ditafsirkan beri dukungan ke Airlangga Hartarto ketika puncak acara HUT Golkar ke-58.

“Kita tafsirkan juga secara implisit, ada dukungan juga yang diberikan kepada Airlangga. Yang keempat mas Erick Thohir yang berani kemudian bergerak kita lihat atributnya di mana-mana,” ujar Direktur Eksekutif Charta Politika tersebut.

Namun, untuk melihat bentuk dukungan, menurutnya perlu dilihat variabel peluang menang yang besar. Variabel peluang menang itu jadi perhatian selain chemistry.

“Pada skala ini, kita hanya tahu hanya ada dua nama yang menuhi prasyarat minimal sesuai survei sekarang hanya mas Ganjar dan Pak Prabowo. Itu yang jadi menarik, ketika kita perdebatkan adalah apakah Ganjar atau Prabowo?” lanjut Yunarto.

Ganjar Ada Otoritas Megawati

Bagi dia, baik Ganjar dan Prabowo sudah memenuhi syarat dari chemistry dan variabel peluang menang. Menurutnya, dari gesture-gesture beberapa tahun ini, kedua tokoh itu peluang menang.

Tapi, Yunarto punya catatan untuk dukungan terhadap Ganjar. Dia menyoroti demikian karena ada perbedaan antara dukungan ke Ganjar dan Prabowo.

“Ada perbedaan sebetulnya hal yang paling berat dilakukan Pak Jokowi ketika ingin menyatakan dukungan itu menurut saya adalah kepada mas Ganjar. Dalam situasi sekarang ya,” ujarnya.

Dia menekankan ke Ganjar karena sama-sama kader PDIP seperti Jokowi. “Ketika beliau menyampaikan dukungan seakan-akan ada otoritas lain. Katakanlah ada otoritas yang mengatakan tersebut ada Ibu Megawati,” tutur Yunarto.

Menurutnya, berbeda saat menyatakan dukungan ke Airlangga atau Prabowo. Dia menyebut dua tokoh itu tak ada otoritas lain. “Hal itu kemudian menurut saya kehati-hatian kepada mas Ganjar akan lebih menarik untuk kita lihat misterinya,” sebut Yunarto.
Meski demikian, ia menganalisa hingga detik ini, secara eksplisit bicara dukungan Jokowi lebih ke Ganjar. Baca Juga :

“Saya mesti mengatakan sampai detik ini hal-hal yang paling eksplisit adalah dukungan kepada Ganjar Pranowo dalam Rakernas Projo di bulan Mei,” katanya.

Oleh: Hardani Triyoga
Sumber foto: Laily Rachev – Biro Pers Sekretariat Presiden
Sumber: Viva.co.id

Pentingnya Intelektualitas dan Kesadaran dalam Pemilu

Kampanye politik yang dipenuhi oleh ujaran kebencian (hate speech) dan penyebaran informasi yang tidak benar (hoax), tidak akan pernah menghasilkan apapun, kecuali kegaduhan dan pertengkaran. Sampai hari ini, waktu dan energi yang sedianya dapat digunakan untuk memberikan edukasi politik kepada masyarakat, menjelaskan tujuan dan trajektori politik masing-masing, serta meraih simpati dari para calon pemilih, justru kontraproduktif.

Beberapa kali masyarakat diarahkan untuk masuk ke dalam ruang-ruang politik yang begitu berantakan. Mereka dipaksa untuk menyaksikan dan menyerap energi dari ruang yang begitu gaduh dan penuh dengan pertarungan narasi yang sama sekali tidak mendidik. Kekhawatiran yang kemudian terjadi adalah duplikasi kepada ruang-ruang kehidupan sosial yang lainnya. Dampaknya, pengetahuan masyarakat tentang politik dibalik sedemikian rupa, kesadaran dimanipulasi.

Peran Intelektualitas

Keberlangsungan proses-proses politik tidak cukup hanya menuntut partisipasi aktif dari para penyelenggara, kontestan politik, dan masyarakat. Partisipasi harus didasarkan kepada intelektualitas dan kesadaran dari setiap subjek di dalam politik. Sehingga setiap partisipasi adalah kontibusi positif bagi proses sekaligus hasil pemilu. Mengingat, pemilu 2024 adalah pemilu kesekian kalinya dimana masyarakat dan para peserta pemilu memiliki kebebasan, kesempatan dan akses yang lebih luas dibandingkan dengan beberapa kontestasi sebelumnya.

Kesempatan lebih besar untuk dipilih, kebebasan lebih luas untuk memilih, serta akses yang lebih mudah dan cepat terhadap hampir seluruh kebutuhan informasi dan komunikasi politik, praktis memiliki dua kecenderungan yang berdampak langsung terhadap proses dan hasil pemilu.

Berperannya intelektualitas di dalam politik akan mampu setidak-tidaknya mengimbangi pemikiran dan pendekatan politik yang hampir selalu menghalalkan segala cara. Lebih jauh, kehadiran intelektualitas akan mampu melahirkan kekuatan pengetahuan dan membangun kesadaran yang benar tentang tujuan dan praktek-praktek politik.

Politik jelas membutuhkan intelektualitas. Jika politik dimaknai sebagai upaya dalam membangun jembatan kesejahteraan, maka intelektualitas adalah arsitek sekaligus teknisinya. Jika politik dipahami sebagai cara untuk meraih dan mengelola kekuasaan, intelektualitas akan menunjukkan jalur dan kaidah-kaidah moralnya.

Intelektualitas yang dimaksud adalah perangkat keilmuan yang melekat padanya tanggung jawab terhadap pencarian kebenaran, kemanusiaan dan keadilan. Artinya, intelektual di dalam politik adalah siapapun yang mampu membangun, menata dan menjalankan prinsip-prinsip ideal di setiap praktek di dalam politik. Jika praktek politik tersebut salah satunya adalah kampanye, maka intelektualitas akan mampu membangun konsep, menata isi dan menjalankan kegiatan kampanye secara baik dan produktif. Setiap bentuk dari pertarungan politik, masyarakat akan selalu mendapat pendidikan dan pencerahan darinya. Bukan sebaliknya.

Intelektual tersebut tidak harus mereka yang terdiri dari para elit partai politik maupun penyelenggara pemilu. Bisa saja, sebagian dari mereka justru adalah yang perlu untuk dikawal atau diimbangi dengan intelektualitas. Maka diharapkan, intelektual politik juga lahir dari luar itu. Mereka adalah para akademisi, budayawan, seniman, ulama, bahkan masyarakat kelas bawah.

Mereka adalah siapapun yang memenuhi syarat, yaitu memiliki perangkat keilmuan memadai dan melekat padanya tanggung jawab terhadap pencarian kebenaran, kemanusiaan dan keadilan di dalam politik berikut proses-proses teknis di dalamnya. Mungkin saja mereka adalah minoritas di ruang-ruang politik. Namun dengan kapasitas, tanggung jawab dan komitmen yang dimiliki, mereka akan mampu membangun kantong-kantong inisiasi bagi terbentuknya kesadaran kolektif. Kesadaran bersama bahwa setiap tahapan dari proses politik harus dipastikan mampu membawa dampak positif.

Kesadaran Kolektif

Menyampaikan pendapat dan informasi adalah hak setiap warga negara. Namun demikian, masyarakat perlu memilah dan memilih, pendapat apa saja dan informasi mana saja yang harus diterima dan perlu untuk disampaikan. Perlu disadari bahwa di setiap kampanye politik, terutama di Era Digital seperti saat ini, siapapun dengan sangat mudah menyampaikan sekaligus menerima pesan politik dalam bentuk apapun. Pemahaman terhadap kepentingan utama rakyat, hubungannya dengan pesan-pesan politik yang disampaikan, serta cara-cara yang digunakan di dalam berkampanye, penting untuk menjadi kesadaran bersama.

Adu program dan adu strategi selalu ada di setiap pertarungan politik. Meskipun kita masih sulit percaya terhadap absennya berbagai pelanggaran di dalam pemilu, setidak-tidaknya dua hal tersebut dapat dijadikan sebagai standar sikap di dalam politik. Masyarakat sudah harus bisa mengukur dan menilai, program mana saja yang layak untuk diapresiasi dan strategi apa saja yang sama sekali tidak perlu untuk disikapi.

Program rasional dan relevan berbasis data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, secara empiris sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan daerah, serta mudah dievaluasi, adalah program yang layak untuk dipertimbangkan dibandingkan dengan program dengan sifat sebaliknya. Tentu saja, masyarakat tidak cukup hanya melihat melalui program-program yang saling beradu. Bagaimana cara program tersebut diperkenalkan, strategi seperti apa yang digunakan, juga penting menjadi bahan pertimbangan.

Cara memperkenalkan program dengan menabrak setiap peraturan yang ada, strategi politik yang justru bertentangan dengan kode etik dan moral sosial, tentu menjadi gambaran bagaimana nanti kekuasaan akan dijalankan. Kesadaran seperti inilah yang saat ini kita butuhkan.

Langkah Awal

Pemilu 2024 pasti akan berakhir dan terpilih seorang kepala negara dan wakilnya, para wakil rakyat, dan para wakil daerah. Selanjutnya akan terbentuk kabinet pemerintahan, susunan legislatif, dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Program yang selama ini diperkenalkan akan dijalankan, dan masyarakat akan dapat merasakan dan menilai secara langsung hasil dari partisipasi mereka.

Kewajiban kita semua adalah menerima hasil dari proses demokrasi tersebut, apapun hasilnya. Adapun yang telah kita lakukan hari ini, yaitu melibatkan intelektualitas dan kesadaran dengan kadar lebih tinggi, menjadi titik awal untuk tetap diberlakukan tidak hanya pada pemilu-pemilu berikutnya, namun juga di dalam setiap ruang dan waktu politik. Jika seluruh atau sebagian dari setiap subjek politik memiliki komitmen terhadap pentingnya intelektualitas dan kesadaran di dalam politik, maka politik kita dapat diilustrasikan sebagai air keruh di dalam gelas yang terus menerus kita isi dengan air yang bening. Meskipun kita sadar, selain setiap proses butuh waktu, setiap usaha selalu ada tantangan.

 

 

Oleh: Wahyu Minarno
Peneliti Charta Politika Indonesia
Ilustrasi: Kompas.id
Tulisan ini telah dimuat di Kompas.id pada 24 Oktober 2022

Survei Charta Politika: Di Sumut dan Kaltim, Elektabilitas Ganjar Unggu

JAKARTA – Ganjar Pranowo berada di puncak elektabilitas sebagai calon presiden (capres) 2024 berdasarkan hasil survei Charta Politika Indonesia bertajuk “Preferensi Sosial dan Politik” di Sumatera Utara dan Kalimantan Timur. Ganjar mengungguli Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.

Di Sumatera Utara, Ganjar berada di urutan pertama dengan mengantongi 26,8 persen dukungan responden. Di posisi kedua ada mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mencapai 24,3 persen. Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto, 22,9 persen.

”Pada simulasi 10 nama, Ganjar Pranowo mendapatkan elektabilitas tertinggi, unggul tipis di atas Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Kemudian, nama-nama lainnya berada di bawah 6 persen, dan responden yang tidak menjawab atau tidak tahu sebesar 8,6 persen,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, Jumat (21/10/22).

Elektabilitas Ganjar kembali unggul di Kalimantan Timur dibandingkan Anies Baswedan dan Prabowo Subianto yang berada di urutan kedua dan ketiga. Ganjar memperoleh elektabilitas tertinggi dengan raihan 26,6 persen pada simulasi 10 nama capres.

Elektabilitas Anies Baswedan berada di posisi kedua sebanyak 25,3 persen dan Prabowo Subianto 23,8 persen. Sedangkan, nama-nama lainnya hanya memperoleh angka di bawah 4 persen.

”Sementara, kita lihat di Kalimantan Timur, Ganjar kembali mendapatkan elektabilitas tertinggi. Unggul tipis di atas Anies Baswedan dan Prabowo Subianto,” terang Yunarto.
Sekadar informasi, survei di Sumatera Utara dilakukan pada tanggal 20 – 27 September 2022 dengan jumlah sampel sebanyak 800 responden dengan margin of error 3,46 persen. Lalu, di Kalimantan Timur, survei dengan kriteria yang sama dilakukan pada 28 September – 4 Oktober 2022, dengan jumlah sampel 800 responden dan margin of error 3,46 persen.

Kriteria responden berusia minimal 17 tahun atau sudah memenuhi syarat pemilih yang diwawancara tatap muka atau face to face interview. Sampel dipilih dengan metode sampling multistage random sampling.p

Puguh Hariyanto
Foto: SINDOnews
Sumber: https://bit.ly/3TN4I3l

Survei Charta Politika: Prabowo Paling Banyak Dipilih Jadi Capres oleh Masyarakat Jaba

JAKARTA – Hasil survei Charta Politika Indonesia menyebut Prabowo Subianto memiliki tingkat keterpilihan atau elektabilitas tertinggi dari masyarakat Provinsi Jawa Barat (Jabar). Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan pada September 2022.

“Prabowo Subianto menjadi pilihan tertinggi publik sebagai calon presiden,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, Jumat (21/10/2022).

Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu memperoleh elektabilitas sebesar 31,3%. Sementara, Anies Baswedan menduduki peringkat kedua dengan elektabilitas sebesar 19,1%. Selanjutnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menduduki peringkat ketiga dengan elektabilitas sebesar 18,3%. Pada posisi keempat, diisi oleh Ganjar Pranowo dengan memperoleh elektabilitas sebesar 16,3%. Sementara, Airlangga Hartarto menduduki peringkat kelima dengan memperoleh elektabilitas sebesar 3,2%.

Agus Harimurti Yudhyono (AHY) menyusul dengan elektabilitas sebesar 2,1%. Di bawahnya, terdapat sosok Sandiaga Uno dengan elektabilitas sebesar 1,7%. Sementara, Puan Maharani berada di peringkat kedelapan dengan elektabilitas sebesar 1,2%. Di posisi kesembilan, nama Erick Thohir muncul dengan elektabilitas sebesar 0,7%, dan terakhir ada nama Khofifah Indar Parawansa dengan elektabilitas 0,1%. “Tidak tahu atau tidak jawab 5,8%,” ujarnya.

Untuk diketahui, survei Charta Politika Indonesia di Provinsi Jawa Barat ini dilakukan pada tanggal 20-27 September 2022 kemarin. Di mana, sebanyak 1.200 responden yang diambil dalam survei ini.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Sementara, metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) pada tingkat kepercayaan 95%.

Felldy Utama
Foto: SINDOnews
Sumber: https://bit.ly/3z3NdUH

Rilis Survei Preferensi Sosial dan Politik Masyarakat di Provinsi Jawa Barat, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2022

Berikut ini kami sampaikan Rilis Survei Preferensi Sosial dan Politik Masyarakat di Provinsi Jawa Barat, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2022

Rilis Survei Charta Politika Indonesia kali ini mencoba membaca perilaku dan pilihan masyarakat terkait :
1. Kepuasan publik terhadap kinerja Pemerintah Pusat
2. Pengetahuan/Awareness Pelaksanaan Pemilu 2024
3. Elektabilitas pemilihan Gubernur, Presiden, Wakil Presiden dan Partai Politik.

Survei di Prov. Jawa Barat dengan jumlah sampel 1200 responden, sedangkan Prov. Sumatera Utara dan Prov. Kalimantan Timur jumlah sampel 800 Responden.
Survei di Prov. Jawa Barat dan Prov. Sumatera Utara dilakukan pada 20 – 27 September 2022 , sementara untuk Prov. Kalimantan Timur dilakukan pada 28 September – 4 Oktober 2022.
Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur dengan protokol kesehatan yang ketat.
Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) pada tingkat kepercayaan 95%.

 

Klik tautan untuk mengunduh:

202210_Rilis Survei_Prov Sumut_800_CPI

202210_Rilis Survei_Prov. Jawa Barat_1200_CPI

202210_Rilis_Survei_Prov. KalTim_800_CPI

 

Survei Charta Politika: Gibran Unggul Gantikan Ganjar di Pilkada Jateng

JAKARTA, KOMPAS.com – Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka berpeluang menggantikan Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah pada Pilkada tahun 2024.

Berdasarkan survei Charta Politika Indonesia terkait Preferensi Sosial dan Politik Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022, nama Gibran unggul dibanding calon kepala daerah lainnya dengan angka 37,7 persen.
Capaiannya bahkan cukup lebar dibanding dengan nama-nama lain di posisi selanjutnya.
“Secara tertutup, Gibran Rakabuming Raka menjadi pilihan responden tertinggi sebagai Kepala Daerah Jawa Tengah (37,7 persen),” jelas Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya dalam survei, dikutip Kompas.com, Jumat (14/10/2022).

Dalam survei itu, Gibran unggul atas Taj Yasin Maimoen yang mendapatkan suara 12,5 persen. Ia pun unggul dari Hendrar Prihardi (Hendi) yang mendapat 7,7 persen.

Lalu, FX Hadi Rudyatmo hanya mendapatkan suara sebesar 4,7 persen. Diikuti Achmad Husein sebesar 3,7 persen, Sudirman Said sebesar 3,1 persen, Rustriningsih 2,2 persen, Komjen Condro Kirono sebesar 0,5 persen, dan lainnya sebesar 2,3 persen.
“Pada pertanyaan tertutup terkait jika pemilihan Gubernur Jawa Tengah pada tahun 2024 dilaksanakan hari ini, Gibran Rakabuming Raka cukup mendominasi pilihan publik sebagai calon Gubernur pada simulasi yang dilakukan,” sebut Yunarto.

Hasil survei juga mengungkapkan, kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah di Jawa Tengah sangat baik, berada di atas angka 80 persen.

Sementara itu, tingkat pengetahuan masyarakat tentang Pemilu 2024 sudah berada atas 65 persen yang menyatakan mereka tahu.
Hal ini mengindikasikan sosialisasi Pemilu 2024 sudah mulai merata di wilayah Jawa Tengah.

Sebagai informasi, survei di Provinsi Jawa Tengah dilakukan dengan jumlah sampel 1.200 responden, yang dilakukan pada 20-27 September 2022.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur dengan protokol kesehatan yang ketat. Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Penulis : Fika Nurul Ulya
Editor : Bagus Santosa
Foto : KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati

 

Gibran Unggul di Survei Pilgub Jateng Charta Politika: Tunggu Sukmben Wae!

Solo – Nama Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, menempati urutan teratas dalam survei elektabilitas pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Tengah (Jateng) 2024 versi Charta Politika.

Survei yang dilakukan pada 20-27 September 2022 itu, menempatkan Gibran di urutan pertama dengan perolehan 37,7 persen. Sementara di urutan kedua ada Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen dengan 17,5 persen, dan mantan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dengan 7,7 persen.

“Mosok? Saya belum lihat surveinya, kalau tertinggi biasanya incumbent,” kata Gibran saat ditemui di Balai Kota Solo, Jumat (14/10/2022).

Gibran menanggapi santai survei tersebut. Sebab, dia menilai Pemilu masih lama, sehingga ia ingin fokus pada pekerjaannya sebagai Wali Kota Solo.

Hasil survei tersebut cukup tinggi, mengingat Gibran merasa tidak melakukan kampanye untuk maju sebagai Calon Gubernur Jateng.

“Aku ra tau (aku tidak pernah) kampanye di Jateng. Biasa-biasa wae (biasa-biasa saja). Tunggu sukmben wae (besuk saja),” ucapnya.

Terlebih, belum ada pembicaraan dengan partai politik (Parpol) untuk dirinya tetap di Solo atau maju sebagai Gubernur di Jateng atau DKI Jakarta. “Belum ada arahan (Parpol). Jik suwe (masih lama),” ujar Politisi PDIP Solo itu.

Saat ditanya, lebih tertarik memimpin Jateng atau DKI Jakarta, Gibran menyerahkan semuanya kepada masyarakat. Sebab, nilai surveinya di Jateng baru memperoleh 37,7 persen.

Sementara dalam survei terbaru Pilgub DKI Jakarta versi Political Statistics (Polstat), Gibran berada di urutan ke-3 dengan perolehan 10,5 persen.

“Ini bukan masalah tertarik tidak tertarik, tapi warga gelem ora (mau tidak). Ya kan cuma 37 persen. Sisane? Sisane ra gelem,” ucapnya.

Putra Sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu menerangkan, dia tidak memikirkan hasil survei yang dilakukan. Hingga saat ini, dia menegaskan masih belum memutuskan kelanjutan karir politiknya di Pemilu 2024

“Waktunya masih panjang, saya belum memutuskan apa-apa. Survei ya kayak gitu, ra mikir survei,” pungkasnya.

 

Agil Trisetiawan Putra – detikJateng
Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng.
Sumber: https://bit.ly/3MCSnML

Rilis Survei Preferensi Sosial dan Politik Masyarakat di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Lampung dan Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2022

Rilis Survei Charta Politika Indonesia kali ini mencoba membaca perilaku dan pilihan masyarakat terkait :
1. Kepuasan publik terhadap kinerja Pemerintah Pusat
2. Pengetahuan/Awareness Pelaksanaan Pemilu 2024
3. Elektabilitas pemilihan Gubernur, Presiden, Wakil Presiden dan Partai Politik.

Survei di Prov. Jawa Tengah dengan jumlah sampel 1200 responden, sedangkan Prov. Lampung dan Prov. Kalimantan Tengah jumlah sampel 800 Responden.
Survei di Prov. Jawa Tengah dan Prov. Lampung dilakukan pada 20 – 27 September 2022 , sementara untuk Prov. Kalimantan Tengah dilakukan pada 28 September – 4 Oktober 2022.
Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur dengan protokol kesehatan yang ketat.
Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) pada tingkat kepercayaan 95%.

Klik tautan untuk mengunduh:

202210_Rilis Survei Charta_Jawa Tengah_1200_

202210_Rilis Survei Charta_KALTENG_800_

202210_Rilis Survei Charta_Lampung_800_

Pilpres 2024 Bakal Lebih Kompleks, Ini Alasannya

JAKARTA, investor.id – Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan, pelaksanaan pemilu presiden (Pilpres) 2024 akan lebih kompleks dibandingkan Pilpres sebelumnya. Pasalnya, tidak ada lagi calon presiden incumbent, sehingga masuk di fase open election.

“Secara mindset, secara terminologi politik, situasinya akan jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Kita masuk dalam fase yang disebut open election, situasi ketika incumbent tidak bisa maju kembali,” kata Yunarto dalam acara Investor Daily Summit 2022 sesi diskusi bertajuk “Understanding Indonesia’s Social Politic Landscape: Impact on Economic Growth and Investment Climate”, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (11/10/2022).

Sebelumnya di Pilpres 2019, Joko Widodo (Jokowi) yang berstatus incumbent bisa maju kembali dalam pemilihan presiden, sehingga sebetulnya sudah terbaca siapa yang akan memenangkan Pilpres.

“Kalau 2019 Pak Jokowi bisa maju kembali, orang tahu yang namanya incumbent itu kampanye gratisan 5 tahun, berat melawan incumbent, sehingga kemudian sudah bisa terbaca apa yang akan terjadi dalam pemilu. Nah, libido yang tertahan di 2019, sekarang ini meledak. Jadi, seperti ada balas dendam, semua merasa ada haknya dan merasa punya peluang untuk jadi capres dan cawapres,” kata Yunarto.

Dalam open election, lanjut Yunarto, semua berjalan dengan sangat cepat dan konflik sangat mungkin bisa terjadi. Ia juga melihat polarisasi masih akan terjadi pada Pilpres 2024 karena memang polarisasi secara sosiologis tidak bisa terelakan. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun, polarisasi juga masih terjadi akibat akses dari Pemilu.

“Polarisasi sulit untuk bisa kita anggap selesai di 2024, dengan pola yang itu-itu saja dan kubu yang itu-itu saja,” kata Yunarto.

Menurut Yunarto, yang kemudian menjadi masalah adalah ketika ada elit politik atau partai yang menggunakan perbedaan ini secara sosiologis untuk membakar ujaran-ujaran kebencian.

“Itulah yang harus kita tolak sebagai sebuah perilaku politik. Kita pernah melihat bagaimana sejarah politik Indonesia beberapa tahun terakhir di Pemilu 2014, Pemilu 2019 dan Pilkada 2017, itu bukan hanya menyisakan pertarungan di level elit atau relawan, tetapi tersisa menjadi sebuah pertentangan yang sifatnya horizontal di antara masyarakat,” ujarnya.

Yunarto mengatakan, karena polarisasi tidak bisa terelakan, seharusnya polarisasi atau perbedaan bisa dibuat menjadi lebih produktif, sehingga perdebatannya bukan pada hal-hal dasar terkait isu SARA.

“Perbedaan itu tidak bisa dihilangkan, dia pasti ada dalam dialektika sejarah manusia, bahkan di negara maju. Tetapi ketika belum menjadi capres pun sudah bertamunya ke kelompok yang jelas bahkan pernah terkena tindak pidana kriminal karena itu, bagaimana kita bisa berharap kesepakatan kita untuk kemudian membuat polarisasi itu lebih produktif. Polarisasi ada, tetapi bagaimana tugas kita membuat perbedaan itu menjadi produktif,” kata Yunarto.

 

Herman (redaksi@investor.id)
Editor: Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)
Foto: Investor.id
Sumber: https://bit.ly/3fOBjHl (Investor.id)