Survei Charta Politika: Elektabilitas Ganjar Jauh Ungguli Anies dan Prabowo

Jakarta, Beritasatu.com – Dalam survei terbaru Charta Politika Indonesia, elektabilitas Ganjar Pranowo masih yang tertinggi dibanding kandidat calon presiden lainnya, yakni Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei tersebut dilakukan pada 8 Desember hingga 16 Desember 2022 dengan metode wawancara tatap muka terhadap 1.220 orang responden dengan margin of error 2,82%.

Dalam survei ini, elektabilitas Ganjar Pranowo mencapai 31,7%, sementara Anies Baswedan 23,9% dan Prabowo Subianto 23,0%.

“Sudah bisa dipastikan, tiga besar ini memang jauh sekali dengan nama-nama yang lain. Bisa dikatakan tiga besar ini paling memenuhi prasyarat apabila menggunakan indikator keinginan dari publik atau masyarakat,” ungkap Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dalam konferensi pers virtual bertajuk “Catatan Akhir Tahun Tren Persepsi Publik dan proyeksi Politik Menuju 2024”, Kamis (22/12/2022).

Di peringkat empat, Ridwan Kamil masih stabil dengan angka 5,8%, disusul Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 2,3%, Sandiaga Uno 2,0%, Puan Maharani 1,5%, Khofifah Indar Parawansa 1,2%, Erick Thohir 1,1%, dan Airlangga Hartarto 0,7%.

“Ada kecenderungan, daerah yang Pak Jokowi kuat, sekarang dikuasai Ganjar. Ada kecenderungan, daerah yang dulu dikuasai oleh Pak Prabowo, mulai digerogoti oleh Anies, dan sebagian masih dikuasai Pak Prabowo,” ungkap Yunarto.

Dari survei ini, Yunarto mengatakan kondisi Pemilu 2024 tidak akan berdiri sendiri dan masih akan terpengaruh oleh kondisi yang pernah terjadi di pemilu sebelumnya.

“Ada kecenderungan memang pembelahan masih terjadi, kecenderungan orang yang menginginkan kelanjutan, melihat bahwa ini kemudian pantas diemban oleh Ganjar karena dianggap paling identik, sehingga itu yang menyebabkan Ganjar mendapatkan penguasan daerah di daerah-daerah yang dulu Jokowi juga kuat,” kata Yunarto.

 

Oleh : Herman / FFS
Foto : Antara
Sumber : Beritasatu.com

 

Status “Darah Biru” Dinilai Sulitkan Puan untuk Jadi Capres

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya berpandangan, Ketua DPR Puan Maharani menghadapi situasi tidak mudah bila ingin maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Menurut Yunarto, status sebagai anak Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri merupakan salah satu faktor yang membuat elektabilitas Puan stagnan karena publik tidak menyukai sosok “berdarah biru” seperti Puan.

“Ada kecenderungan ‘darah biru’ ini bukan lagi aset tapi liabilities, ada protes keras, ada kritik keras dari masyarakat, mereka inginnya yang bottom up, kira-kira seperti itu,” kata Yunarto, Kamis (21/12/2022).

Yunarto menilai, meski menjadi bagian dinasti politik, rekam jejak politik Puan memang sudah teruji karena pernah menjadi anggota DPR, ketua fraksi, menteri, hingga menjadi Ketua DPR.

Namun, Yunarto menilai, kini ada situasi di tengah masyarakat yang didominasi anak muda yang menolak calon-calon berstatus “darah biru”.

“Apakah itu harus disalahkan? Ya enggak bisa, malah harus ditunjukkan dengan cara yang lebih effort lebih ya buat para darah biru ini, saya tidak tahu tidak fair buat mereka,” ujar Yunarto.

Di samping itu, ia juga mengingatkan bahwa masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang belum bisa menerima pemimpin perempuan.

Menurut Yunarto, faktor itu pula yang menggagalkan Megawati terpilih pada Pilpres 2024.

Oleh karena itu, bila akhirnya PDI-P memberi tiket calon presiden kepada Puan, Puan memiliki peluang kecil untuk keluar sebagai pemenang Pilpres 2024.

“Walaupun Ganjar tidak maju, dnegan adanya dua calon lain yang sangat kuat dengan elektabilitas juga bisa menyaingi Mas Ganjar, ada Pak Prabowo dan Mas Anies, kecenderungannya menurut saya Mbak Puan sulit untuk bersaing,” kata Yunarto.

Yunarto menuturkan, beragam hasil survei menunjukkan bahwa elektabilitas Puan berada di angka maksimal 3 persen, jauh di bawah Ganjar, Anies, dan Prabowo yang elektabilitasnya telah melampaui 20 persen.

Dalam survei Charta Politika pada 8-16 Desember 2022, Puan hanya mengantongi elektabilitas 1,5 persen pada simulasi 10 nama.

Dalam simulasi tersebut, Ganjar menempati posisi puncak dengan elektabilitas sebesar 31,7 persen, disusul Anies (23,9 persen), dan Prabowo (23 persen).

Survei ini dilaksanakan dengan metode wawancara tatap muka terhadap 1.220 orang sampel pada 8-16 Desember. Survei ini memiliki margin of error sebesar 2,82 persen.

Penulis : Ardito Ramadhan
Editor : Icha Rastika
Foto : Dokumen Humas DPR RI
Sumber : Nasional.kompas.com

Survei Charta Politika, Elektabilitas PDIP Kembali Melesat

Jakarta, Beritasatu.com – Elektabilitas PDI Perjuangan (PDIP) masih teratas dalam survei yang dilakukan Charta Politika Indonesia. Survei tersebut dilakukan pada 8-16 Desember 2022 dengan metode wawancara tatap muka terhadap 1.220 orang responden dengan margin of error 2,82%.

Dalam survei tersebut, elektabilitas PDIP mencapai 23,5%, meningkat dibandingkan hasil survei pada November 2022 dengan angka 21,7%. Posisi kedua ditempati oleh Gerindra dengan angka elektabilitas 13,7%, disusul Golkar 9% dan PKB 8,7%.

“Seandainya pemilu legislatif untuk memilih anggota DPR RI dilaksanakan hari ini, PDIP memiliki elektabilitas tertinggi sebesar 23,5%. Ada kecenderungan PDIP mulai menapak naik. Walaupun belum sama dengan angka elektabilitas sebelumnya yang di angka 24%, tetapi setelah dua kali turun di September dan November, PDIP naik kembali,” ungkap Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dalam konferensi pers virtual bertajuk “Catatan Akhir Tahun Tren Persepsi Publik dan Proyeksi Politik Menuju 2024”, Kamis (22/12/2022).

Dari hasil survei sebelumnya, elektabilitas Gerindra sebesar 14,5%, Golkar 9,8%, sementara PKB 8,5%.

“Ada stagnasi dari angka Gerinda, juga bisa dikatakan cukup stagnan untuk partai Golkar, dan ada kecenderungan stagnan juga di PKB,” terang Yunarto.

Untuk elektabilitas partai lainnya, Demokrat 7,7%, PKS 7,2%, Nasdem 4,3%, PAN 3,5%, Perindo 3,4%, PPP 3,0%, sedangkan partai lainnya masih di bawah 1%.

“Sedikit kenaikan dialami partai Demokrat dan PKS. Namun ada penurunan yang terjadi di Nasdem dari 6,0% menjadi 4,3%. Ini menjadi pertanyaan dan bahan diskusi kenapa kemudian terjadi penurunan,” sambung Yunarto.

 

Oleh : Herman / YUD
Foto: Beritasatu Photo/David Gita Roza
Sumber: Beritasatu.com

Yunarto Wijaya Ingatkan Potensi Kecurangan di Pemilu 2024

Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengingatkan adanya potensi kecurangan dalam pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif atau Pemilu Legislatif di tahun 2024 mendatang. Untuk itu, dia menekankan agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga fokus mengawasi Pileg, tidak hanya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) di 2024 nanti.

Demikian disampaikan oleh Yunarto dalam acara Obrolan Malam Fristian bertajuk Special Launching TV Pemilu: Bersatu Kawal Pemilu, yang disiarkan oleh BTV, Kamis (15/12/2022).

“Yang harus diingat juga, salah satu yang hilang dari pengawasan ini adalah ketika semua fokus pada Pilpres, orang juga menjaga yang enggak boleh curang itu Pilpres-nya saja. Padahal jangan-jangan yang sedang terjadi dan berpotensi buat bapak-bapak Bawaslu dan KPU tidak terdeteksi karena fokus tidak di situ, itu adalah Pileg,” kata Yunarto dalam acara tersebut.

Yunarto menerangkan, cukup banyak pihak terkait yang bakal terlibat dalam pelaksanaan Pileg 2024 nanti. Perlu diketahui, dalam Pileg nanti masyarakat akan memilih calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), calon anggota DPRD tingkat I, dan calon anggota DPRD tingkat II.

“Jadi akan ada lima kertas suara nanti kita, kecuali Jakarta,” tutur Yunarto.

Yunarto menegaskan pentingnya supaya dapat terselenggara Pileg yang berkualitas. Dia mengingatkan ancaman yang berpotensi timbul jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan Pileg.

“Harus diingat walaupun sistem kita presidensial, tanpa parlemen yang diisi partai-partai yang baik, pemerintah kita juga enggak akan baik,” ujar Yunarto.

Diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menetapkan nomor urut parpol peserta Pemilu 2024, Rabu (14/12/2022) malam di Kantor KPU Jakarta Pusat.

Sebanyak 8 partai politik di Parlemen memilih menggunakan nomor urut lama mereka pada Pemilu 2019 lalu.

Sementara, 9 partai politik mendapatkan nomor urut baru lewat pengundian nomor urut parpol peserta pemilu yang digelar KPU, hari ini Rabu (14/12/2022).

“Menetapkan nomor urut partai politik peserta pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,” kata Ketua KPU Hasyim Asy’ari di Kantor KPU, Jakarta Pusat.

Oleh : Muhammad Aulia / YUD
Foto: BeritasatuPhoto/Muhammad Aulia
Sumber: Beritasatu.com

 

Persaingan Prabowo dengan Anies Beri Efek Positif ke Ganjar

Jakarta, Beritasatu.com – Persaingan antara figur Prabowo Subianto dengan Anies Baswedan dapat memberikan dampak positif ke Ganjar Pranowo terkait Pilpres 2024. Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, Ganjar dinilai tidak akan terlalu terganggu oleh persaingan dimaksud karena Prabowo dan Anies memiliki ceruk pemilih yang sama untuk diperebutkan.

Dalam acara Obrolan Malam Fristian yang disiarkan di BTV, Rabu (30/11/2022), Yunarto menilai bahwa Pemilu 2024 nanti tidak bisa terlepas sepenuhnya dari pengaruh Pemilu 2014 dan 2019. Dua ajang pemilu tersebut menurutnya telah menciptakan ceruk pemilih tersendiri.

“Ceruk yang dimiliki oleh Jokowi (Presiden Joko Widodo) dan dulu ceruk yang dimiliki oleh pihak oposisi diwakili oleh Pak Prabowo,” ujar Yunarto saat hadir secara daring.

Namun demikian, situasi berubah ketika Prabowo masuk ke dalam kabinet pemerintahan Presiden Jokowi. Sementara di sisi lain, ceruk pemilih yang menghendaki Indonesia yang berbeda dari era pemerintahan Jokowi tetap ada. Dari sana, menurut Yunarto Anies bisa memperoleh limpahan suara.

“Itu yang menyebabkan kalau tadi saya sebutkan breakdown data basis pemilih Anies itu hampir mirip dengan data Pak Prabowo kemarin. Tetapi masih ada sebagian yang bisa dipertahankan Pak Prabowo. Jadi itu juga betul yang menyebabkan Mas Ganjar lebih seperti berdiri sendiri, dalam pertarungan di antara ketiga orang ini tidak terlalu terganggu,” tutur Yunarto.

Sementara dalam persaingan antara Prabowo dengan Anies, Yunarto menilai akan terjadi sebuah kanibalisme atau saling serang antara basis pendukung mereka yang serupa. Hanya saja, dia menilai bisa saja baik Prabowo maupun Anies memperoleh keuntungan dari persaingan ini dibanding Ganjar.

“Kalau terjadi putaran kedua, karena persinggungan market di antara Prabowo dan Anies ini lebih bersinggungan, suara di antara keduanya itu lebih mungkin lari ke salah satu di antara mereka. Ganjar akan lebih mendapatkan limpahan lebih kecil,” ujar Yunarto.

 

Oleh : Muhammad Aulia / WIR
Foto : Beritasatu.com/Tangkapan Layar
Sumber : Beritasatu.com

Survei Charta Politika: Persaingan Kandidat Capres Mengerucut ke Dua Nama, Ganjar dan Anies

JAKARTA, KOMPAS.com – Survei terbaru Charta Politika mengenai kandidat calon presiden (capres) menempatkan Ganjar Pranowo sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi. Tingkat elektoral Gubernur Jawa Tengah itu mencapai 32,6 persen.

Kemudian, di urutan kedua ada mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang elektabilitasnya naik menjadi 23,1 persen.

Anies berhasil menggeser Prabowo Subianto ke posisi ketiga. Elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra itu turun di angka 22,0 persen.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, persaingan kandidat capres ke depan tereduksi menjadi dua nama saja, yakni Ganjar dan Anies.

“Cenderung akan mengerucut bukan lagi berbicara mengenai tiga nama, spekulasi saya ini akan mengerucut kepada Ganjar dan Anies,” kata Yunarto dalam tayangan YouTube Charta Politika Indonesia, Selasa (29/11/2022).

Meski sosok Prabowo masih banyak diminati, namun, kata Yunarto, data menunjukkan bahwa nama Ganjar dan Anies lebih mendominasi di berbagai wilayah.

Menurut Yunarto, situasi ini tak lepas dari sejarah Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 dan 2019 yang menghadap-hadapkan Jokowi dengan Prabowo.

Sosok Ganjar kini menjadi yang paling lekat dicitrakan sebagai penerus Jokowi. Sementara, figur yang identik dengan antitesa presiden bukan lagi Prabowo, melainkan Anies.

Oleh karenanya, tak heran jika kini dukungan publik menguat ke Ganjar dan Anies, sementara Prabowo mulai terpinggirkan.

“Kecenderungan penguasaan wilayah ini mulai mengerucut kepada dua nama,” kata Yunarto.

Di luar nama-nama tersebut, ada beberapa tokoh lainnya yang juga potensial menjadi capres. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menempati peringkat keempat survei dengan elektabilitas 5,6 persen.

Kemudian secara berturut-turut ada nama Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY (3,5 persen), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (2,0 persen), dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (1,6 persen).

Lalu, di urutan delapan dan seterusnya ada sosok Ketua DPR RI Puan Maharani (1,6 persen), Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (1,5 persen), dan Menteri BUMN Erick Thohir (1,4 persen).

Adapun survei Charta Politika ini diselenggarakan pada 4-12 November 2022. Survei menggunakan metode wawancara tatap muka.

Dengan metode multistage random sampling, survei melibatkan 1.220 responden. Sementara, margin of error survei ini sebesar 2,83 persen. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.

Editor : Fitria Chusna Farisa
FOto : KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO-GARRY LOTULUNG
Sumber : Kompas.com

Survei Charta Politika: PDIP Masih Lebih Unggul Daripada Gerindra dan Golkar

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hasil survei nasional Charta Politika Indonesia, menemukan PDI Perjuangan (PDIP) unggul dari Gerindra dan Golkar dalam elektabilitas partai politik.

PDIP masih menjadi partai yang paling dipilih masyarakat, dengan persentase 21,7 persen.

Kemudian, di urutan kedua ada Gerindra dengan angka 14,5 persen.

“Kalau kita lihat PDI Perjuangan masih memimpin dengan angka 21,7 persen. Diikuti oleh Gerindra dengan angka 14,5 persen, di posisi kedua,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, melalui pertemuan daring, Selasa (29/11/2022).

Selanjutnya, diikuti Partai Golkar di urutan ketiga.

“Golkar ada di posisi ketiga dengan 9,8 persen,” kata pria yang kerap disapa Toto itu.

Adapun di posisi empat ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kemudian, diikuti Partai Demokrat di posisi lima.

“PKB ada di posisi keempat dengan 8,5 persen. Demokrat ada di posisi kelima dengan 7,3 persen,” ujar Toto.

Adapun posisi enam dan seterusnya, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 6,9 persen, NasDem 6 persen, PAN 4 persen, Perindo 2,5 persen.

“Dan partai-partai lain yang masih ada di bawah angka satu persen dengan angka tidak tahu-tidak jawab masih ada di angka 13,1 persen,” ungkap Toto.

Sebagai informasi, survei dilakukan pada 4-12 November 2022 melalui metode wawancara tatap muka, di seluruh kelurahan atau desa di Indonesia.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling, dengan jumlah sampel 1220 orang, margin of error 2,83 persen dan responden minimal berusia 17 tahun atau sudah memenuhi syarat pemilih.

Penulis: Ibriza Fasti Ifhami
Editor: Johnson Simanjuntak
Foto: Tribunnews
Sumber: Tribunnews.com

Elektabilitas Ganjar Pranowo Konsisten Naik

Jakarta, Beritasatu.com – Hasil survei terbaru lembaga Charta Politika Indonesia menunjukkan elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo terus menunjukkan tren positif untuk menghadapi Pilpres 2024. Ganjar Pranowo kembali mengalahkan elektabilitas dua pesaingnya, yakni mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Survei terbaru Charta Politika dilakukan pada 4-12 November 2022 dengan metode wawancara tatap muka terhadap 1.220 orang responden. Responden dipilih dengan metode multistage random sampling dan margin of error 2,83% pada tingkat kepercayaan 95%.

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya dalam paparannya secara daring, Selasa (29/11/2022), menyatakan elektabilitas Ganjar Pranowo konsisten mengalami kenaikan. Pada Desember 2021, elektabilitas Ganjar Pranowo mencapai 28,2%, lalu pada April 2022 mengalami kenaikan menjadi 29,2% dan 31,2% pada Juni 2022. Lalu, kembali naik pada September 2022 dengan elektabilitas 31,3% dan pada Oktober 2022 berada pada angka 32,6%.

“Elektabilitas Ganjar konsisten mengalami kenaikan,” tegas Yunarto.

 

Posisi kedua, lanjut Yunarto, ditempati Anies Baswedan dengan angka elektabilitas 23,1%, disusul Prabowo Subianto dengan elektabilitas sebesar 22%. Tren elektabilitas keduanya relatif stabil, tetapi berdasarkan survei terakhir elektabilitas Anies mengalami kenaikan, sekaligus menggeser Prabowo.

“Sebelumnya elektabilitas Prabowo lebih unggul dan survei pada Oktober 2022 ini justru Anies mengalami kenaikan elektabilitas dari 20,6% pada September 2022 dan sekarang pada 23,1%. Prabowo mengalami penurunan dari 24,4% pada September 2022 menjadi 22% pada Oktober ini,” ungkap Yunarto.

 

Oleh : Yustinus Paat / AB
Foto : Pemprov Jateng
Sumber : Beritasatu.com

Survei Charta Politika: Elektabilitas Ganjar Tertinggi, Disusul Anies, lalu Prabowo

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjuarai survei elektabilitas calon presiden (capres) yang dirilis lembaga survei Charta Politika, Selasa (29/11/2022).

Tingkat elektoral politisi PDI Perjuangan itu tembus angka 30 persen.

“Ganjar Pranowo masih ada di peringkat pertama dengan angka 32,6 persen,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dalam tayangan YouTube Charta Politika Indonesia, Selasa (29/11/2022).

Dalam survei yang dirilis sebelumnya atau September 2022, Ganjar telah menempati urutan puncak dengan tingkat elektabilitas 31,3 persen.

Hanya saja, pada survei terbaru ini, terjadi perubahan urutan elektabilitas di peringkat kedua dan ketiga. Urutan kedua ditempati oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan elektabilitas 23,1 persen.

Lalu, di peringkat ketiga ada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Elektabilitas Menteri Pertahanan itu mencapai 22,0 persen.

Menurut survei ini, Anies berhasil menggeser Prabowo dari urutan kedua menjadi tiga.

“Kalau di bulan September itu masih dipegang oleh Pak Prabowo dengan peringkat kedua, sekarang Pak Prabowo di tingkat ketiga,” ujar Yunarto.

Setelahnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menempati peringkat empat dengan elektabilitas 5,6 persen.

Kemudian secara berturut-turut ada nama Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY (3,5 persen), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (2,0 persen), dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (1,6 persen).

Lalu, di urutan 8 dan seterusnya ada sosok Ketua DPR RI Puan Maharani (1,6 persen), Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (1,5 persen), dan Menteri BUMN Erick Thohir (1,4 persen).

Membaca tren yang ada, kata Yunarto, persaingan para tokoh ke depan tidak lagi fokus pada Ganjar, Anies, dan Prabowo, tetapi tereduksi menjadi dua nama saja, yaitu Ganjar dan Anies.

Meski nama Prabowo masih banyak diminati, namun, kata Yunarto, data menyebutkan bahwa nama Ganjar dan Anies lebih mendominasi di berbagai wilayah.

“Kecenderungan yang tadinya penguasaan wilayah itu masih tersebar di tiga nama, kalau kita baca data ini mulai mengerucut ke dua nama,” kata dia.

Adapun survei Charta Politika ini diselenggarakan pada 4-12 November 2022. Survei menggunakan metode wawancara tatap muka.

Dengan metode multistage random sampling, survei melibatkan 1.220 responden. Sementara, margin of error survei ini sebesar 2,83 persen

Editor : Fitria Chusna Farisa
Ilustrator: KOMPAS.com/ANDIKA BAYU SETYAJI
Sumber: Kompas.com

Jokowi Dukung Ganjar atau Prabowo, Begini Analisa Yunarto Wijaya

VIVA Politik – Gesture Presiden Joko Widodo atau Jokowi jadi perhatian di tengah dinamika politik menuju Pilpres 2024. Jokowi dikaitkan dengan dukungan politiknya terhadap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Pengamat politik Yunarto Wijaya menganalisa sampai saat ini belum bisa dipastikan sikap Jokowi meng-endorse antara Ganjar atau Prabowo. Menurut dia, jika merujuk di Amerika Serikat, maka seorang Presiden punya sikap untuk memastikan legacy-nya dalam dukungan politiknya.

“Yang tidak boleh adalah menggunakan kekuasaan ketika dia masih berkuasa,” kata Yunarto dalam Kabar Petang tvOne yang dikutip VIVA pada Selasa, 8 November 2022.

Menurut dia, dengan berbagai momen belakangan ini, Jokowi dikaitkan dengan tafsir dukungan ke Ganjar, Prabowo, Airlangga Hartarto, hingga Erick Thohir.

Dia bilang dalam hal ini bisa disimpulkan siapa yang membuat nyaman Jokowi. Dari momen ini yang sering dibahas adalah Ganjar.

Momen Rakernas Projo Pun, dia mengaitkan dengan rakernas relawan Pro Jokowi (Projo) di Magelang, Jawa Tengah pada Mei 2022. Saat itu, hadir Ganjar dan disinggung langsung oleh Jokowi ketika acara berlangsung.

“Kenapa? Karena ini untuk pertama kalinya Pak Jokowi bicara mengenai Pilpres 2024 di hadapan relawan Pilpres. Terkait sosok satu-satunya yang hadir di situ yang bisa ditafsirkan adalah Ganjar Pranowo,” jelas Yunarto.

Yunarto juga menyinggung gesture Jokowi yang belakangan ini kerap dikaitkan dengan Prabowo. Kata dia, dukungan Jokowi ke Prabowo ditafsirkan secara eksplisit.

Meski demikian, ia juga menyinggung saat Jokowi secara implisit ditafsirkan beri dukungan ke Airlangga Hartarto ketika puncak acara HUT Golkar ke-58.

“Kita tafsirkan juga secara implisit, ada dukungan juga yang diberikan kepada Airlangga. Yang keempat mas Erick Thohir yang berani kemudian bergerak kita lihat atributnya di mana-mana,” ujar Direktur Eksekutif Charta Politika tersebut.

Namun, untuk melihat bentuk dukungan, menurutnya perlu dilihat variabel peluang menang yang besar. Variabel peluang menang itu jadi perhatian selain chemistry.

“Pada skala ini, kita hanya tahu hanya ada dua nama yang menuhi prasyarat minimal sesuai survei sekarang hanya mas Ganjar dan Pak Prabowo. Itu yang jadi menarik, ketika kita perdebatkan adalah apakah Ganjar atau Prabowo?” lanjut Yunarto.

Ganjar Ada Otoritas Megawati

Bagi dia, baik Ganjar dan Prabowo sudah memenuhi syarat dari chemistry dan variabel peluang menang. Menurutnya, dari gesture-gesture beberapa tahun ini, kedua tokoh itu peluang menang.

Tapi, Yunarto punya catatan untuk dukungan terhadap Ganjar. Dia menyoroti demikian karena ada perbedaan antara dukungan ke Ganjar dan Prabowo.

“Ada perbedaan sebetulnya hal yang paling berat dilakukan Pak Jokowi ketika ingin menyatakan dukungan itu menurut saya adalah kepada mas Ganjar. Dalam situasi sekarang ya,” ujarnya.

Dia menekankan ke Ganjar karena sama-sama kader PDIP seperti Jokowi. “Ketika beliau menyampaikan dukungan seakan-akan ada otoritas lain. Katakanlah ada otoritas yang mengatakan tersebut ada Ibu Megawati,” tutur Yunarto.

Menurutnya, berbeda saat menyatakan dukungan ke Airlangga atau Prabowo. Dia menyebut dua tokoh itu tak ada otoritas lain. “Hal itu kemudian menurut saya kehati-hatian kepada mas Ganjar akan lebih menarik untuk kita lihat misterinya,” sebut Yunarto.
Meski demikian, ia menganalisa hingga detik ini, secara eksplisit bicara dukungan Jokowi lebih ke Ganjar. Baca Juga :

“Saya mesti mengatakan sampai detik ini hal-hal yang paling eksplisit adalah dukungan kepada Ganjar Pranowo dalam Rakernas Projo di bulan Mei,” katanya.

Oleh: Hardani Triyoga
Sumber foto: Laily Rachev – Biro Pers Sekretariat Presiden
Sumber: Viva.co.id