02 Mar 2010 |
|
| Rapat Paripurna DPR yang mengagendakan pembacaan dan pandangan akhir fraksi-fraksi terhadap temuan Pansus Hak Angket Century berakhir ricuh. Bagaimana kita membaca kericuhan tersebut? Benarkah kericuhan itu ditujukan untuk menggulur Rapat Paripurna DPR untuk memperpanjang waktu lobi? Tak mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, perilaku dan komunikasi politik elit-elit partai politik menjelang pandangan akhir fraksi di rapat paripurna memang menunjukkan satu hal: sempitnya waktu lobi. Kebutuhan lobi Istana untuk melunakkan hati Fraksi Partai Golkar dan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera juga berujung gagal. Meskipun telah diancam akan didepak dari kabinet, kedua partai ini tetap bersikukuh untuk tidak merubah pandangan akhirnya tentang hasil akhir Pansus Century. Tak tanggung, dua staf khusus lembaga kepresidenan juga diutus untuk melakukan tugas khusus: lobi politik. Safari polik dua orang staf khusus itu juga berakhir tak berakhir dengan baik. Berharap akan melunakkan petinggi parpol, mereka justru dikecam. Kemarin, Senin (1/3) saat sejumlah fraksi merampungkan laporan akhir Pansus. Fraksi Demokrat merapat di Cikeas. Sebelumnya, beberapa partai koalisi juga bertemu di rumah Ketua DPP Demokrat, Syarif Hasan. Waktu lobi memang sempit, untuk kasus sebesar Century. Ancam-ancaman antar kubu pro-aliran dana Century dan kubu kontra dapat ditafsirkan sebagai bentuk kebuntuan lobi politik. Benarkah kericuhan tersebut buntut dari kebuntuan lobi, Anda-lah yang memutuskannya! (A. Fernandes) |




Arsip artikel Charta Politika Indonesia.