Skandal dana talangan Bank Century sebesar 6,7 triliun dan penahanan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rupanya menjadi pertaruhan bagi citra politik SBY sejak ia dilantik 20 Oktober lalu. Beberapa kali SBY harus menepis sejumlah tudingan bernada negatif yang dialamatkan kepadanya dan Partai Demokrat. Di hadapan media massa, seringkali terdengar SBY menyebut fitnah untuk menolak tuduhan-tuduhan pada dirinya.
Terkait aliran dana Bank Century, saat menyampaikan kata sambutan dalam Peringatan Hari Guru (2/12), SBY kembali dengan tegas menolak tudingan bahwa Cikeas dan Partai Demokrat menikmati dana talangan Bank Century untuk membiayai kampanye pemilu legislatif dan presiden lalu.
Perdebatan aliran dana Bank Century yang terus mengalir di Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket juga membuat “gerah” Istana. Terutama setelah terkuak data bahwa kehadiran Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) Marsilam Simanjuntak dalam rapat-rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) saat penentuan kucuran dana 6,7 triliun adalah atas “perintah” Istana.
Meski belakangan Istana mengaku tak tahu-menahu soal kehadiran Marsilam, tapi masalah belum berakhir. SBY kembali harus menyelamatkan citra politiknya setelah beredarnya buku Membongkar Gurita Cikeas dalam Skandal Bank Century karya George Junus Aditjondro yang menyebutkan bahwa Cikeas menikmati aliran dana Century melalui pembentukan sejumlah Yayasan. Saat memperingati Hari Natal Nasional (27/12), SBY kembali menyampaikan bantahan. Menurut Presiden, data-data yang ditulis George Junus adalah fitnah yang telah melampaui batas-batas etika, moral dan budi pekerti.
Menyelamatkan Citra
Sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dilantik pada 20 Oktober tahun lalu, energi politik SBY memang banyak terkuras dalam menanggapi dua isu utama: pelemahan KPK dan aliran dana Bank Century. Hasil media monitoring Charta Politika Indonesia pada enam media nasional pada 20 Oktober - 31 Desember 2009 menunjukkan, kinerja politik SBY untuk mewujudkan janji-janji kampanyenya kerap kali tersandera oleh lemahnya manajemen isu pemerintah, sehingga pemerintah seperti gagap dalam menanggapi beragam isu. Makanya menjadi tidak heran bila dalam 100 hari pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu II, untuk menyelamatkan citra politiknya, SBY banyak melontarkan pernyataan balasan terhadap isu aliran dana Bank Century dan pelemahan KPK.
Hasil temuan Charta Politika menunjukkan, mayoritas pernyataan SBY (sekitar 28,6%) adalah menanggapi aliran dana Bank Century. Disusul tanggapan terhadap pelemahan KPK (27,7%), kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II (26,2), KTT perubahan iklim (10,2%) dan program 100 hari KIB (7,3%).
Pertanyaanya, mengapa begitu penting bagi SBY untuk menyelamatkan citra politiknya melalui dua isu kontroversial itu? Pertama, SBY tentu khawatir bila isu ini “menjalar” ke kelompok menengah ke bawah. Pasalnya, bila itu terjadi tentu akan memperkuat daya picu untuk “menganggu” kinerja politik SBY. Makanya menjadi penting bagi SBY dan tim kepresidenan untuk “mengamankan” daya jangkau isu ini hanya menjadi konsumsi kelas menengah ke atas.
Kedua, investasi politik. Dalam dua periode pemerintahannya, SBY tentu ingin mengakhiri karier politiknya secara khusnul-khatimah (akhir yang baik). Menjadi penting bagi SBY untuk mengamankan psikologi politik massa hingga 2014 nanti.
Ketiga, masa depan Demokrat. Pada pemilu lalu, isu pemerintahan bersih dan pemberantasan korupsi menjadi isu andalan bagi tim kampanye SBY - Boediono untuk memasarkan citra SBY dan Partai Demokrat. Rupanya, dua isu tersebut laku di pasaran dan menjadi magnet politik untuk menarik dukungan pemilih. SBY sadar setelah nanti tidak lagi menjadi presiden, Demokrat membutuhkan branding sebagai partai bersih untuk menjaga suara di pemilu 2014 nanti.
Gagal Mengelola Isu
Pada saat yang sama, PDI Perjuangan yang seharusnya bisa mendulang “keuntungan” dari polemik pelemahan KPK dan skandal Bank Century, justru gagal mengkapitalisasi dua isu ini untuk mendongkrak popularitas partai dan citra sebagai partai bersih. Padahal dua isu di atas menjadi celah yang efektif untuk menohok jantung istana. Namun nyatanya isu ini masih menjadi konsumsi kelas menengah ke atas. Pada kelompok sosial menengah ke bawah, popularitas SBY rasanya tidak terlalu terancam bila dibandingkan dengan kelompok menengah ke atas.
Meskipun sejak dilantiknya SBY, PDI Perjuangan berhasil merajai pemberitaan media massa dengan intensitas pernyataan sebesar 30,5%, namun elit PDI Perjuangan kurang berhasil mengkomunikasikan dua isu besar ini dengan bahasa yang lugas dan sederhana.
Menguatnya intensitas pemberitaan media massa perihal KPK dan skandal Bank Century menunjukkan besarnya harapan media massa untuk menyelamatkan KPK dan mengungkap skandal Century. Ini terekam dalam temuan media monitoring Charta Politika selama 2009. Isu pelemahan KPK menjadi isu utama selama 2009 dengan intensitas pemberitaan di media massa sebesar 26,7%, disusul aliran dana Century (23,9%).
Untuk itu, tahun ini menjadi pertaruhan bagi SBY untuk menyelamatkan citranya. Selain itu, tahun 2010 tidak hanya ujian bagi citra personal SBY, tetapi juga bagi masa depan koalisi politik SBY serta bargaining (daya tawar) politik Demokrat pada 2014 nanti. Bila Partai Demokrat tak sigap membaca sinyal politik ini, penulis yakin Demokrat akan sulit kembali mengulang sukses pada pemilu 2014 mendatang.
Sumber: Koran Kontan, 04 Januari 2010
 |