Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/sloki/user/h25389/sites/chartapolitika.com/www/modules/mod_gk_news_highlighter/helper.php on line 320
HOT NEWS

Bukan Sekedar Politik Kuantitas

Petuah lama dalam politik kembali menemu pembenarannya dalam politik kita. Politik bukanlah perkara kuantitas semata

Politik Pencitraan Tidak Mati!

Terpilih sudah Ketua Umum Partai Demokrat yang baru. Seorang politisi muda yang belum lama beranjak dari usia 40 tahun

http://www.chartapolitika.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/668015catur.jpg http://www.chartapolitika.com/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/431910anasurban.jpg
/index.php?option=com_content&view=article&id=249&catid=249 /index.php?option=com_content&view=article&id=274&catid=274
News image

Setgab dan Instabilitas Permanen

Pembentukan Sekretariat Gabungan (Setgab) partai koalisi sampai saat ini masih mengundang reaksi beragam. Hal... Selanjutnya...

News image

Trik Partai Politik di Parlemen

Meski masih menjadi perdebatan di parlemen, rencana peningkatan parliamentary threshold secara bertahap pada P... Selanjutnya...

News image

Pilihan Setengah Hati Sang Oposisi

Usai sudah perhelatan akbar lima tahunan PDIP yang diadakan di Bali pada 6-9 April lalu. Seperti telah diduga... Selanjutnya...

News image

Skenario Adu Banteng

Hajatan besar lima tahunan PDI Perjuangan (PDIP) tidak lama lagi akan digelar. Kongres III yang sedianya dilak... Selanjutnya...

More in: Bima Arya sugiarto, Yunarto Widjaya, Arya Fernandes, Karel H. Susetyo

Welcome to Charta Politika Indonesia

02

Jul

2010

Tentukan Hak Pilih Lewat Survei Publik

JAKARTA - Sekretariat gabungan partai koalisi pendukung pemerintahan SBY diminta tidak memotong kesepakatan pemberian hak pilih TNI lewat pembicaraan tertutup. Cara terbaik menentukan wacana ini adalah lewat survei kepada masyarakat sipil dan militer. Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, mengatakan penentuan hak pilih TNI tidak boleh sampai menjadi pertarungan elite politik. Yunarto mengutarakan hal itu setelah melihat kecenderungan disetujuinya wacana hak pilih oleh partai koalisi dan ditolaknya ide oleh partai oposisi dan partai baru. "Pemberian hak pilih ini berbeda karena masyarakat memiliki trauma sejarah," ujarnya saat dihubungi Republika, Ahad (27/6).

Apabila sampai partai koalisi membahasnya dalam sekretariat gabungan, keputusan yang muncul belum tentu mewakili kepentingan terbaik publik. Alasannya, keputusan sekretariat gabungan diambil secara tertutup dalam ruang yang tidak bisa dikontrol masyarakat.

Cara terbaik mencari tahu apakah hak pilih perlu diberikan adalah melalui survei kepada masyarakat sipil apakah mereka siap menerima TNI memilih. Serta, ke masyarakat militer, untuk mengetahui apakah mereka mau memiliki hak politik.

Pengembalian hak politik tanpa upaya memperbaiki reformasi internal TNI juga kenaikan anggaran militer lantas dipandang Yunarto berisiko. "Saat proses reformasi masih mentah, lalu dipaksa ada keterlibatan hak pilih, ini bisa memunculkan penyumbatan reformasi TNI," tuturnya.

Sementara itu, setelah Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menyatakan belum perlunya TNI menggunakan hak pilih, giliran Partai Golkar (PG) menyatakan hal sama. TNI/Polri dinilai lebih baik fokus pada pembenahan internal dan peningkatan anggaran. "Pemberian hak pilih bagi TNI/Polri itu tinggal menunggu waktu saja. Tapi (pemberian hak pilih-Red), itu jangan sekarang," kata Wakil Ketua Umum DPP PG, Agung Laksono, kepada Republika, Ahad (27/6).

Diungkapkannya, masih banyak hal yang harus lebih dulu diprioritaskan sebelum memberikan hak kepada TNI/Polri. Skala prioritas yang harus didahulukan, menurut Agung, adalah menuntaskan reformasi yang masih berjalan di tubuh TNI/Polri. Termasuk, memperbaiki anggaran yang layak bagi TNI/Polri sehingga TNI/Polri bisa mendapatkan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang berkualitas. TNI/Polri juga harus diprioritaskan dalam hal perbaikan kesejahteraannya. indira/joko s, ed:sbt

Sumber: Harian Republika, 28 Juni 2010

 

Charta Research

Kontroversi putusan MA

News image

Caleg Partai Golkar Indra J Piliang (kiri) bersama (dari kiri) Pakar Hukum Tata Negara, Irman Putrasidin, Caleg PAN, Viva Yoga Mauladi, Direktur Eksekutif Charta Politika, Bima Arya Sugiarto dan Direktur...

More in: Charta Research

Charta Update

Diskusi Politik; “Pilpres 2009 dan Dilema Sistem Presidensial”

News image

 Dihadiri oleh beberapa Pimpinan Partai, Fungsionaris Partai, Pengamat Hukum dan Pengamat Politik Tempat:Balai KartiniTanggal :28 Mei 2009Narasumber :Zulkieflimansyah (Sekjen PKS)Budiman Sudjatmiko (Fungsionaris PDIP)Irman Putra Siddin (Pengamat Hukum Tata Negara)Bima Arya...

More in: Charta Update

Charta Testimonial

Anas Urbaningrum

News image

Saya menilai Charta Politika Indonesia adalah lembaga yang serius dan objektif. Kehadirannya sangat penting untuk mendekatkan dunia akademik-intelektual dengan dunia politik di Indonesia.Charta Politika Award 2009 sangat berarti buat saya....

More in: Charta Testimonial

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.