5 Fakta Menarik Yunarto Wijaya, Direktur Charta Politika yang Jadi Target Pembunuhan

AKURAT.CO, Sosok Yunarto Wijaya tentunya tak asing lagi bagi khalayak. Ia merupakan direktur eksekutif Charta Politika, yang makin sering muncul di berbagai media menjelang pilpres. Nama Yunarto terus diperbincangkan setelah dirinya dinyatakan menjadi salah satu target pembunuhan dalam aksi 22 Mei.

Yunarto bersama empat tokoh nasional lainnya menjadi sasaran pembunuhan berdasarkan kesaksian dari para pelaku. Salah seorang pelaku berinisial IR, mengaku diperintah untuk membunuh Yunarto dengan imbalan sebesar Rp5 juta.

Berikut fakta-fakta menarik Yunarto Wijaya, yang sudah dihimpun oleh AKURAT.CO dari berbagai sumber.

1. Pria yang akrab dipanggil Mas Toto ini kuliah di Jurusan Hubungan Internasional, merupakan lulusan terbaik Universitas Katolik Parahyangan Bandung, pada tahun 2004

2. Saat masih di bangku perkuliahan, Yunarto dikenal sebagai aktivis kampus, baik dalam kegiatan internal maupun eksternal, sekaligus merintis usaha kuliner sejak tahun 2003

3. Pada tahun 2007, Yunarto kemudian melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Indonesia dan bekerja bekerja sebagai professional banker di Citibank Indonesia

4. Yunarto kemudian bergabung dengan Charta Politika setelah dirinya mendapat tawaran dari mantan dosennya di Universitas Katolik Parahyangan

5. Yunarto pernah bertaruh pindah ke China atau Korea Utara dengan seorang warganet, jika capres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno menang dalam pilpres 2019

Itulah sederet fakta menarik direktur eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, yang menjadi target pembunuhan aksi 22 Mei.

 

Editor: Ahada Ramadhana

Sumber: https://akurat.co/news/id-652769-read-5-fakta-menarik-yunarto-wijaya-direktur-charta-politika-yang-jadi-target-pembunuhan

Yunarto Wijaya Maafkan Kivlan Zen yang Diduga Berniat Membunuhnya

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengaku sudah memaafkan orang yang berniat untuk membunuhnya. Menurut polisi, Yunarto menjadi target pembunuhan yang direncanakan Mayjen (Purn) Kivlan Zen. “Saya pribadi dan keluarga sudah memaafkan dan tak memiliki dendam apapun baik kepada perencana maupun eksekutor,” kata Yunarto kepada Kompas.com, Rabu (12/6/2019).

Yunarto mengatakan, menjadi target pembunuhan justru membuat ia belajar kembali tentang kasih. Memaafkan orang yang memusuhinya justru membuat ia merasa lebih bisa mensyukuri dan menikmati kehidupan.

Yunarto pun mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya terhadap langkah-langkah pengamanan yang dilakukan Polri dan TNI yang berhasil membuat situasi menjadi kondusif.

Ia mengajak semua pihak mempercayakan proses hukum yang berjalan tanpa diiringi oleh tekanan dan ujaran kebencian dari pihak manapun.

“Kejadian ini harus dilihat bukan dalam konteks keselamatan orang-orang yang ditarget. Tapi bagaimana demokrasi kita yang telah tercemar. Tercemar ujaran kebencian yang tidak bisa ‘membunuh’ perbedaan. Tercemar dengan aneka rupa kebohongan yang anti terhadap keberagaman,” kata dia.

Yunarto menambahkan, permainan politik identitas dalam perhelatan demokrasi harus diakui sering terjadi berbagai negara, meski bukan sesuatu yang diharapkan. Tetapi, ketika dilumuri dengan berbagai ujaran kebencian dan hoaks, hasil akhirnya adalah terkoyaknya modal sosial sebagai bangsa.

“Ini bukan sekadar untuk disesali, tapi seyogianya menjadi pembelajaran bersama agar tak lagi terulang di waktu-waktu yang akan datang. Karena itu, jangan lelah untuk terus mencintai Indonesia. Memperkuat persatuan dan merawat kebinekaan dalam satu tarikan nafas sebagai manusia Indonesia,” kata dia.

Irfansyah, salah satu tersangka kepemilikan senjata api ilegal, sebelumnya mengaku mendapat perintah dari Mayjen (Purn) Kivlan Zen untuk membunuh Yunarto Wijaya. Pengakuan Irfansyah disampaikan lewat rekaman video yang diputar Polri dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Jumpa pers itu dilakukan Kepala Divisi Humas Polri Irjen M Iqbal, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjend Sisriadi, dan beberapa pejabat Polri.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Yunarto Wijaya Maafkan Kivlan Zen yang Diduga Berniat Membunuhnya “, https://nasional.kompas.com/read/2019/06/12/11335521/yunarto-wijaya-maafkan-kivlan-zen-yang-diduga-berniat-membunuhnya.
Penulis : Ihsanuddin
Editor : Sabrina Asril

Foto Dok KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA

 

 

Direktur Eksekutif Charta Politika laporkan lima akun medsos ke polisi

Jakarta (ANTARA) – Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya melaporkan beberapa akun media sosial yang menyebut dirinya memanipulasi hitung cepat yang dikeluarkan oleh lembaganya ke Bareskrim Polri.

Menurut Yunarto, akun-akun itu menyebarkan hoaks berupa gambar tangkapan layar aplikasi pesan WhatsApp yang berisi percakapan antara dirinya dengan seseorang yang disebut jenderal.

“Chat palsu saya dengan jenderal siapa saya tidak tahu, karena tidak ada namanya, seperti sudah diamankan sesuatu seperti itulah,” kata Yunarto di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa.

Yunarto mengatakan, pihaknya pernah mendapat serangan hoaks serupa pada sebelum Pemilu 2019. Namun saat itu pihaknya dituduh memanipulasi survei popularitas pasangan capres-cawapres.

Sementara saat ini, dengan gambar yang sama, Yunarto dituduh melakukan manipulasi “quick count” yang dikeluarkan lembaga yang dipimpinnya.

Yunarto menyebutkan beberapa akun medsos yang turut menyebarkan gambar tersebut juga memberikan kata-kata bernada ancaman terhadap dirinya.

“Ancaman terornya macam-macam, dilaknatlah, mau diserang sniperlah. Tapi saya bukan melaporkan soal teror ini, tapi melaporkan hoaks sebelum Pemilu yang semakin menjadi-jadi setelah ‘quick count’ keluar,” katanya.

Beberapa akun medsos yang dilaporkannya ke polisi adalah akun Twitter @silvy_Riau02, @sofia_ardani, @sarah ahmad, @rif_opposite serta akun Facebook Ahmad Mukti Tomo.

Laporan Yunarto teregister dengan nomor LP/B/0382/IV/2019/Bareskrim tanggal 14 April 2019.

Dalam laporan tersebut, para pelapor dikenakan Pasal Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Media Elektronik, UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 27 Ayat (3) jo 45 Ayat (3) Pencemaran Nama Baik, UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 310 KUHP, Fitnah UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP, Pasal 311 KUHP.

 

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Yuniardi Ferdinand

COPYRIGHT © ANTARA 2019

Foto dok: Asep Firmansyah

Profil Yunarto Wijaya, dari Usaha Restoran hingga Jadi Direktur Charta Politika

Liputan6.com, Jakarta Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya saat ini menjadi topik hangat. Pasalnya, namanya disebut menjadi salah satu target sasaran pembunuhan oleh satu kelompok, yang diperintahkan langsung dari purnawirawan jenderal bintang dua Kivlan Zen.

Hal ini terungkap dari salah satu keterangan tersangka berinisial IR, yang telah diperlihatkan oleh pihak Polri kepada awak media di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, pada Selasa (11/6/2019).

Namun setelah tertangkapnya IR, kini Yunarto Wijaya mengaku tidak dendam dengan para perencana dan eksekutor yang akan membunuhnya.

“Sudah tak ada dendam lagi dari saya & keluarga baik buat yg jadi perencana ataupun eksekutor…” ucap Yunarto melalui akun twitternya, @yunartowijaya.

Lalu seperti apa sih sosok Yunarto Wijaya Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia itu? Berikut fakta lengkap sosok Yunarto Wijaya, yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (12/6/2019).

Lulusan Terbaik Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung

Yunarto Wijaya yang memiliki panggilan akrab dengan panggilan Mas Toto ini lahir di Jakarta, (27/6/1981) yang kini telah berumur 37 tahun. Mas Toto adalah Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, yang pada masa kuliahnya menjadi lulusan terbaik Jurusan Hubungan Internasional di FISIP Universitas Katolik Parahyangan Bandung, pada tahun 2004.

Semasa kuliahnya, Yunarto Wijaya dikenal aktif terlibat dalam serangkaian kegiatan kemahasiswaan, baik internal kampus, maupun yang bersifat eksternal. Tidah hanya pada jenjang sarjana, pada tahun 2007, Yunarto Wijaya melanjutkan studinya di Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan lulus pada tahun 2009.

Awal Karier Sebagai Enterpreneur

Awal kariernya pun bukan dimulai dari dunia yang bersinggungan dengan politik, namun dimulai dengan menjadi enterpreneur melalui usaha restoran pribadi, di daerah Kelapa Gading, Jakarta Timur, sekitar 2003.

Usaha restoran ini telah dirintisnya saat masa kuliah. Setelah lulus dari kuliah, bisnis kuliner yang dijalaninya semakin berkembang. Namun hal ini tidak dirasa cukup, sehingga pada 2007 Yunarto memutuskan untuk bergabung dengan Citibank Indonesia sebagai seorang professional Banker.

Tak lama setelah bekerja sebagai seorang Banker, Yunarto ditawari oleh mantan Dosennya di Universitas Katolik Parahyangan untuk bergabung dengan Charta Politika, disinilah karier Yunarto Wijaya mulai dibangun hingga akhirnya menjadi Direktur Eksekutif Charta Politika.

Kiprah Singkat Charta Politika Indonesia

Lembaga survey Charta Politika Indonesia pasti dalam setiap kontestasi politik selalu hadir dalam setiap Quick Count dan mengawal informasi perkembangan perolehan suara cepat agar masyarakat Indonesia segera mengetahui kisi-kisi hasil perolehan suara.

Bukan hanya dalam tingkat nasional saja, namun juga dalam sekup regional yaitu dalam pemilihan Gubernur DKI 2017 lalu dan beberapa tahun kebelakang mengawal kontestasi pemilihan umum di Republik Indonesia.

Tidak hanya survey saja, namun Charta Politika juga memberikan layanan sekolah politik, strategi pemenangan, media maupun penelitian.

Charta Politika Sempat Laporkan 5 Akun yang Tuduh Akali Survei Pilpres 2019

Dalam kiprahnya, ternyata Charta Politika tidak hanya melewati jalan yang mulus saja. Charta Politika sempat mendapat fitnah di media sosial yang membuat lembaga survey ini melaporkan akun-akun tersebut ke pihak berwenang.

Lembaga survei Charta Politika melaporkan lima akun media sosial ke polisi lantaran menuding pihaknya telah melakukan rekayasa alias mengakali survei Pilpres 2019 lewat percakapan pesan singkat atau chat palsu.

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya menyampaikan, pihaknya datang ke Bareskrim Polri untuk sekaligus merampungkan laporan yang sudah dibuat sebelumnya terkait chat palsu yang disebarkan sejumlah akun media sosial.

“Akun Instagram maupun di Facebook maupun di Twitter dan penyebaran lewat Whatsapp ya yang sebenarnya sudah terjadi tiga hari sebelum pemilu,” tutur Yunarto di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Menurut Yunirto, laporan itu sudah dibuat sejak 14 April 2019. Namun usai Pemilu 2019 pada 17 April, persoalan dugaan fitnah itu malah semakin ramai dan membesar.

 

https://hot.liputan6.com/read/3987811/profil-yunarto-wijaya-dari-usaha-restoran-hingga-jadi-direktur-charta-politika

Yunarto Wijaya: Quick Count yang Harusnya Jadi Alat Bantu, Malah Dianggap Buat Pemilu Jadi Ambigu

TRIBUNWOW.COM –  Direktur Lembaga Survei Charta Politika Yunarto Wijaya, menantang semua pihak yang mengungkapkan data soal perolehan suara sementara calon presiden dan calon wakil presiden, untuk membuka semua data yang mereka keluarkan.

Meski tidak menyebut pihak tertentu, Yunarto secara tegas meminta agar semua data tentang hasil perolehan suara sementara dibuka transparansinya pada publik.

Hal tersebut diungkapkan oleh Yunarto dalam ekspose data quick count pemilu bersama dengan sejumlah lembaga survei lain.

Dikutip dari channel YouTube metrotvnews, Sabtu (20/4/2019), Yunarto awalnya menjelaskan bahwa banyak pihak yang mencoba menggiring opini publik tentang hasil quick count yang dikeluarkan oleh lembaga survei.

“Pertama bahwa ada pihak yang sudah menyimpulkan bahwaquick count pasti salah, quick count berusaha menggiring opini bahkan ada yang mengatakan bahwa quick count nanti akan disamakan atau KPU akan menyama-nyamakan hasilnya denganquick count,” terang Yunarto.

Untuk itu, Yunarto mewakili lembaga survei yang lainnya, mengaku perlu membuka semua data berkaitan dengan hasil quick count yang dikeluarkan oleh lembaganya.

“Jadi ini bukan lagi tentang sekedar kredibilitas lembaga masing-masing, kita merasa kita perlu membuka data kita seterang-terangnya supaya ini bisa membantu juga proses real count yang sedang dilakukan oleh KPU,” papar Yunarto

“Tidak kemudian diintervensi, dibentuk opininya, dikaitkan dengan opini quick count yang kami lakukan, kami tidak bisa menjaga proses real count nya tetapi minimal kami bisa membuka proses yang kami lakukan sehingga tuduhan-tuduhan itu bisa tidak muncul lagi,” tambahnya.

Terkait semua opini soal data perolehan sementara tersebut, Yunarto dengan tegas menantang semua pihak yang pernah membeberkan kemenangan soal hasil pilpres, membuka semua data ke hadapan publik.
“Kami sangat berharap semua pihak lain yang sudah berani menyebutkan angka di hadapan publik di media, bahwa ada angka 62%, 52%, 55% siapapun itu, kami juga mengimbau untuk melakukan keterbukaan informasi seperti yang kami lakukan,” tegas Yunarto.

 

 

Penulis: Nila Irdayatun Naziha
Editor: Lailatun Niqmah
Foto sumber: Repro/Kompas TV

 

Yunarto Charta: PSI Partai Masa Depan

 

jpnn.com, JAKARTA – Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengapresiasi sikap Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pasalnya partai yang dipimpin Grace Natalie itu telah mengumumkan mereka tidak lolos ke DPR berdasarkan hasil quick count beberapa lembaga survei.

“Kontras sekali melihat bagaimana anak anak muda di psi merespon kekalahan mereka dibandingkan dengan respon dari mereka yang selama ini mengklaim memiliki akal sehat,” katanya, Kamis (18/4).

Meskipun belum lolos di DPR pada Pemilu 2019, dia mengungkapkan, PSI bisa saja menjadi partai masa depan. Ini terlihat dari sikap politik dan kreatifitas PSI pada masa kampanye.

“Partai ini adalah partai masa depan, diakhiri dengan sikap ksatria yang sangat berbeda dengan apa yg ditunjukan oleh kubu yang kalah di pilpres, berarti mereka memiliki mental untuk bisa tampil lagi di Pemilu berikutnya,” ujarnya.

Yunarto menyarankan, salah satu yang bisa dilakukan untuk memperkuat positioning dengan memberdayakan kader di daerah. Pasalnya PSI mendapatkan kesempatan untuk masuk di DPRD, salah satunya Jakarta.

“Bagaimana kiprah temen temen PSI yang lolos di DPRD konsisten bekerja sesuai dengan yang mereka teriakan selama ini. Kalau itu berhasil, mereka berkesempatan menjadi kejutan di 2024,” tutupnya.

Sebelumnya, calon Presiden Prabowo Subianto mendeklarasikan kemenangannya di Pilpres 2019. Dia  tidak didampingi oleh calon wakil presidennya, yakni Sandiaga Uno.

“Bahwa berdasarkan real count kita, kita sudah berada di posisi 60 persen. Ini adalah hasil real count,” tutur Prabowo di Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (17/4).

 

 

sumber: https://www.jpnn.com/news/yunarto-charta-psi-partai-masa-depan

Direktur Eksekutif Charta Politika laporkan lima akun medsos ke polisi

Jakarta (ANTARA) – Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya melaporkan beberapa akun media sosial yang menyebut dirinya memanipulasi hitung cepat yang dikeluarkan oleh lembaganya ke Bareskrim Polri.

Menurut Yunarto, akun-akun itu menyebarkan hoaks berupa gambar tangkapan layar aplikasi pesan WhatsApp yang berisi percakapan antara dirinya dengan seseorang yang disebut jenderal.

“Chat palsu saya dengan jenderal siapa saya tidak tahu, karena tidak ada namanya, seperti sudah diamankan sesuatu seperti itulah,” kata Yunarto di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa.

Yunarto mengatakan, pihaknya pernah mendapat serangan hoaks serupa pada sebelum Pemilu 2019. Namun saat itu pihaknya dituduh memanipulasi survei popularitas pasangan capres-cawapres.

Sementara saat ini, dengan gambar yang sama, Yunarto dituduh melakukan manipulasi “quick count” yang dikeluarkan lembaga yang dipimpinnya.

Yunarto menyebutkan beberapa akun medsos yang turut menyebarkan gambar tersebut juga memberikan kata-kata bernada ancaman terhadap dirinya.

“Ancaman terornya macam-macam, dilaknatlah, mau diserang sniperlah. Tapi saya bukan melaporkan soal teror ini, tapi melaporkan hoaks sebelum Pemilu yang semakin menjadi-jadi setelah ‘quick count’ keluar,” katanya.

Beberapa akun medsos yang dilaporkannya ke polisi adalah akun Twitter @silvy_Riau02, @sofia_ardani, @sarah ahmad, @rif_opposite serta akun Facebook Ahmad Mukti Tomo.

Laporan Yunarto teregister dengan nomor LP/B/0382/IV/2019/Bareskrim tanggal 14 April 2019.

Dalam laporan tersebut, para pelapor dikenakan Pasal Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Media Elektronik, UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 27 Ayat (3) jo 45 Ayat (3) Pencemaran Nama Baik, UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 310 KUHP, Fitnah UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP, Pasal 311 KUHP.

 

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dok foto: Asep Firmansyah

https://www.antaranews.com/berita/842228/direktur-eksekutif-charta-politika-laporkan-lima-akun-medsos-ke-polisi

 

Usai Buka-bukaan soal Data Quick Count, Yunarto Wijaya: BPN Kapan Buka?

 

TRIBUNNEWS.COM – Menjawab keraguan sejumlah pihak soal data quick count Pilpres 2019 yang dirilis, Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) bersama delapan anggotanya akhirnya menggelar konfrensi pers Expose Data Hasil Quick Count Pemilu 2019 di Kebon Sirih, Jakarta, Sabtu (20/4/2019) kemarin.

Mengutip Tribunnews.com, Ketua Persepi, Philips J Vermonte menyampaikan metodologi yang digunakan dalam melaksanakan hitung cepat.

“Metode kita ngambil 2.000, 3.000 atau 4.000 TPS. Lalu ada numerator yang kita kirim ke TPS, kita memobilisasi lebih kurang 2.000 orang,” kata Philips.

Peran numerator di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) hanya melaporkan penghitungan form C1 plano dari TPS.

Dalam keterangan mereka, numerator ditugaskan melakukan foto C1 Plano untuk kemudian dikirim ke server pusat.

Philips J Vermonte lantas menyebut hasil quick count setiap lembaga tidak akan sama, itu karena adanya margin of error paling tidak satu persen.

“Yang jelas hasil penghitungan quick count biasanya tidak deviasi jauh dengan hasil penghitungan manual (rekapitulasi) KPU),” kata Philips.

Persepi menambahkan hasil quick count atau exit poll bukan final, yang mana referensinya tetap Komisi Pemilihan Umum.

Usai ekspos data quick count, Yunarto Wijaya, Sekretaris Jenderal Persepi sekaligus Direktur Charta Politika menjawab pertanyaan seorang warganet di akun Twitternya, Minggu (21/4/2019).

Seorang warganet awalnya menantang apakah ada lembaga survei yang bersedia menjadi volunter untuk membuka sampel data dan sumber pembiayaan quick count Pilpres 2019.

 

Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com

Foto dok. Tribunnews.com/Imanuel Nicolas Manafe

http://www.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/04/21/usai-buka-bukaan-soal-data-quick-count-yunarto-wijaya-bpn-kapan-buka

Kesimpulan Hasil Quick Count Charta Politika: Jokowi Memenangi Pilpres 2019

 

Liputan6.com, Jakarta – Proses hasil hitung cepat atau quick count Pilpres 2019 yang dilakukan Charta Politika telah mencapai 99,85% data yang masuk. Berdasarkan data itu, Charta Politika menyimpulkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin akan memenangi Pilpres 2019.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengungkap, berdasarkan hasil quick countlembaganya, Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh suara 54,66% mengungguli pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang memperoleh 45,34%.

“Selisih antara kedua pasangan adalah sebesar 9,32%. Hal ini melampaui margin of error sebesar +/-1%. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin akan memenangkan Pilpres 2019 ini,” kata Yunarto dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Selasa (23/4/2019).

Menurut dia, proses updating data quick count akan terus dilakukan seiring dengan adanya penambahan data masuk. “Akan tetapi, apabila dilihat dari grafik stabilitas suara, penambahan data masuk tidak akan menimbulkan perubahan signifikan terhadap hasil quick count secara keseluruhan,” ujar Yunarto.

Metodologi Quick Count

Populasi quick count Charta politika merupakan seluruh pemilih di seluruh TPS (tempat pemungutan suara). Sampel yang digunakan sebanyak 2.000 TPS dipilih secara acak dari total populasi TPS (809.497) di seluruh Indonesia secara proporsional.

Dengan sampel sebesar 2.000 TPS, tingkat kepercayaan quick count sebesar 99% dengan toleransi kesalahan (margin of error) sebesar +/- 1%. Artinya, perolehan suara kandidat dari hasilquick count ini bisa bergeser ke atas atau ke bawah hingga sebesar 1%.

Metode penarikan sampel dipilih dengan metode stratified-cluster random sampling dari populasi tersebut. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menyebar 2.000 relawan di 2.000 TPS terpilih.

Setiap relawan memonitor pemungutan suara sejak dibukanya TPS sampai penghitungan suara. Hasil penghitungan suara(C1) dikirim kepusat data, kemudian data ditabulasi dan ditampilkan secara real time.

RILIS QUICK COUNT PILPRES & PILEG 2019

Berikut Laporan Quick Count Pilpres & Pileg 2019 Charta Politika Indonesia:

  1. Data Pilpres sudah 100%
  2. Lampiran penjelasan Margin of Error (MoE) dan level signifikansi Per-Provinsi
  3. Data Pileg 98.35% data masuk

20190428_Laporan Quick Count Charta Politika_update